Penderita Diabetes Boleh Berpuasa, Ini Hal yang Harus Diperhatikan

Klikinews.com – Pada bulan Ramadan, seluruh umat muslim menyambut bulan yang penuh rahmat dan ampunan, tak terkecuali orang dengan diabetes atau dikenal dengan istilah diabetisi. Meski demikian, tidak semua diabetisi bisa berpuasa, hal ini terkait dengan  kadar gula darah saat berpuasa yang memerlukan perhatian khusus bagi diabetisi.

Tidak semua diabetisi aman untuk berpuasa.  Pada diabetisi dengan risiko penurunan gula darah yang tinggi atau memiliki sakit infeksi yang berat tidak disarankan untuk berpuasa. Sedangkan bagi diabetisi dengan gula darah yang terkendali dapat berpuasa dengan aman.  Akan tetapi sebaiknya Anda perlu melakukan konsultasi dengan dokter terlebih dulu untuk penyesuaian pola makan atau obat yang dikonsumsi. Simak ini dia serba-serbi berpuasa untuk orang diabetes yang dapat membantu Anda

Sebenarnya, dalam Islam sendiri tidak mewajibkan orang dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti diabetes yang belum terkontrol untuk berpuasa. Namun, beberapa orang tentu ingin merasakan indahnya ibadah puasa di bulan Ramadhan,” kata dr. Melisa Diah Puspitasari, Sp.PD , Dokter Spesialis Penyakit Dalam Eka Hospital Bekasi kepada media klikinews.com, Kamis ( 28/03/24).

Bagi diabetisi, pemilihan makanan dan pemantauan kadar gula darah adalah kunci penting agar ibadah puasa dapat berjalan dengan lancar dan tetap menyehatkan. Dalam keadaan normal, diabetisi dianjurkan untuk makan 3x porsi besar dan 2-3 x porsi kecil dalam sehari untuk menjaga kadar gula darah. Akan tetapi, jumlah ini bisa berkurang selama bulan puasa. Artinya, jenis makanan yang dipilih harus benar-benar diperhatikan. Jika Anda sudah mendapatkan panduan pola makan dari dokter untuk hari-hari biasa, terapkan hal serupa pula saat puasa dengan sedikit menggeser waktu makan siang tentunya.

Asupan nutrisi yang harus selalu ada dalam porsi makan sewaktu sahur dan berbuka adalah:

● Karbohidrat kompleks tinggi serat, seperti nasi merah atau pasta gandum utuh

● Buah dan sayur untuk asupan serat

● Protein rendah lemak, seperti daging tanpa lemak dan dada ayam tanpa kulit

“Pilihlah jenis makanan yang punya indeks glikemik rendah. Indeks glikemik adalah nilai yang menunjukkan seberapa cepat atau lambatnya suatu makanan dapat meningkatkan kadar gula darah setelah dikonsumsi. Semakin rendah indeks glikemiknya, semakin lambat pula makanan diubah menjadi glukosa. Dengan demikian, kadar gula darah tidak akan melonjak secara tiba-tiba,”jelasnya

Sebenarnya, tanpa berpuasa, diabetisi punya risiko yang lebih tinggi terhadap hipoglikemia ataupun hiperglikemia. Risiko ini akan meningkat ketika Anda berpuasa. Itu sebabnya, diabetisi yang berpuasa perlu melakukan pemantauan kadar gula darah yang lebih sering dibandingkan waktu tidak berpuasa.

Memantau kadar glukosa darah dapat membantu Anda menentukan apakah Anda bisa melanjutkan puasa atau harus membatalkannya. Selain itu, Anda juga bisa mengevaluasi pilihan makanan yang Anda konsumsi saat sahur dan berbuka puasa.

Kategori Risiko Terkait Puasa Ramadan pada Pasien DM

Risiko sangat tinggi pada pasien dengan:

– Hipoglikemi berat dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadan.

– Riwayat hipoglikemi yang berulang.

– Hipoglikemi yang tidak disadari (unawareness hypoglycemia).

– Kendali glikemi buruk yang berlanjut.

– DM tipe 1.

– Sakit (illness) akut.

– Koma akibat hiperglikemi dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadan.

– Menjalankan pekerjaan fisik yang berat.

– Hamil.

– Pasien ginjal yang melakukan hemodialisis/ cuci darah rutin.

 

Risiko tinggi pada pasien dengan:

– Hiperglikemi sedang (rerata glukosa darah 150–300 mg/dL atau HbA1c 7,5–

9%)

– Gangguan fungsi ginjal.

– DM dengan komplikasi jantung, stroke atau sumbatan pada pembuluh darah

– Hidup “sendiri” dan mendapat terapi insulin atau sulfonilurea.

– Usia lanjut dengan ill health.

 

Risiko ringan- sedang pada pasien dengan:

– Diabetes yang terkendali dengan terapi gaya hidup saja atau obat-obatan oral untuk DM

 

Jika Anda adalah diabetisi dengan tingkat risiko komplikasi rendah ke sedang, Anda bisa mengecek kadar gula darah 1 sampai 2 kali sehari. Akan tetapi, jika termasuk ke dalam risiko tinggi atau sangat tinggi Anda perlu melakukan pengecekan kadar gula darah lebih sering dalam sehari, dengan jadwal sebagai berikut:

● Bangun tidur

● 2 jam setelah sahur

● Tengah hari

● Sore hari

● Waktu berbuka puasa

● Usai tarawih

 

Pastikan Anda segera melakukan cek gula darah jika mulai merasakan tanda-tanda hipoglikemia, seperti gemetar, pusing, keringat dingin, mengantuk, jantung berdebar kencang, lemas, dan mual.

 

Kapan diabetisi harus membatalkan puasa?

 

Apabila mengalami gejala hipoglikemia (gula darah terlalu rendah) seperti gemetar, keringat dingin, disorientasi, mengantuk dan mual, Anda harus segera membatalkan puasa. Selain itu, Anda juga harus membatalkan puasa jika dalam pengecekan didapatkan kadar gula darah:

● Kurang dari 70 mg/dl

● Lebih dari 300 mg/dl

Anda bisa mengonsumsi minuman manis atau makanan tinggi gula sebagai pertolongan pertama hipoglikemia.

Pantangan orang diabetes saat puasa

Pantangan makanan dan minuman untuk diabetisi, baik saat berpuasa ataupun tidak sebenarnya sama saja.

Saat puasa, diabetisi harus menghindari makanan dan minuman tinggi gula saat sahur dan berbuka puasa serta menghindari makanan tinggi lemak.

Kalaupun tetap ingin mengkonsumsi sebaiknya dalam porsi yang sedikit.

 

Rekomendasi makanan dan minuman untuk diabetesi

Makanan dan minuman yang dianjurkan oleh orang diabetes saat berbuka puasa dan sahur, antara lain harus memiliki kriteria berikut: tinggi serat, rendah lemak, rendah gula atau karbohidrat dan indeks glikemik rendah.

Berikut ini adalah makanan yang direkomendasikan untuk diabetes saat puasa:a Sayuran: brokoli, wortel, kacang polong, sayuran hijau, Buah: jeruk, melon, apel, pisang

Karbohidrat: nasi merah, oat, roti dan pasta dari gandum utuh Protein: daging tanpa lemak, dada ayam tanpa kulit, ikan, telur, tahu, tempe

“Minuman terbaik untuk diabetisi yang berpuasa adalah air putih. Jika ingin minum susu, pastikan pilih susu yang rendah lemak tanpa pemanis.  Selain itu, hal lain yang penting untuk diperhatikan saat berpuasa ramadhan yaitu diabetisi dianjurkan untuk melakukan sahur mendekati waktu imsak dan berbuka sedini mungkin begitu waktunya telah tiba,”tuturnya

Aturan minum obat diabetes saat puasa

Selama berpuasa sebaiknya diabetisi berdiskusi dengan dokter terkait obat yang harus dikonsumsi. Biasanya, dokter dapat mengubah atau menggeser jadwal minum obat. Dokter juga mungkin akan melakukan penyesuaian  dosis insulin saat berpuasa.

Kondisi apa saja yang dapat memperburuk diabetes saat berpuasa

Pola makan yang salah dapat memperburuk kondisi diabetes Anda ketika berpuasa. Beberapa hal yang bisa memperburuk kadar gula darah saat puasa, antara lain:

● Tidak makan sahur

Dalam keadaan di atas, Anda dianjurkan untuk tidak melanjutkan puasa. Terlebih jika sudah mengalami gejala-gejala hipoglikemia.

● Berbuka puasa dengan makanan dan minuman tinggi gula

● Tidak mengontrol kadar gula darah sebelum memasuki bulan Ramadan

● Mengalami sakit atau infeksi lainnya

Apabila mengalami hiperglikemia, anda  dapat melakukan suntik insulin, minum obat sesuai anjuran dokter atau menghubungi dokter Anda.

Jika dibiarkan, hiperglikemia bisa menyebabkan komplikasi ketoasidosis diabetes yang membahayakan nyawa.

Bolehkah orang diabetes olahraga saat puasa?

Orang yang memiliki diabetes sebaiknya tidak melakukan olahraga berat di waktu berpuasa, yakni antara waktu sahur dan berbuka.

Apabila Anda ingin berolahraga, sebaiknya olahraga dilakukan sekitar 1-2 jam setelah waktu berbuka. Olahraga setelah berbuka juga dapat membantu kadar gula darah tidak melonjak tinggi.

Anda bisa melakukan olahraga ringan, seperti berjalan santai atau bersepeda.

Hindari berolahraga menjelang waktu berbuka karena meningkatkan risiko hipoglikemia. Sebelum memutuskan berpuasa atau tidak, Anda wajib berkonsultasi dan mendapatkan izin dari dokter terlebih dulu. Anda bisa mengunjungi pusat diabetes terintegrasi Diabetes Connection Care (DCC) yang ada di Eka Hospital (red).

 

 

 

 

Sumber : Eka Hospital Bekasi

Editor.   : Aisyahra Mulyawati

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *