KOTA BEKASI, KLIKINEWS – Peringatan Hari Ozon Internasional di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP), Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Rabu (16/9/2026), menjadi momentum pemerintah membahas perlindungan lingkungan sekaligus masa depan tenaga kerja di tengah transisi hijau.
Menteri Lingkungan Hidup (LH) sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Mohammad Jumhur Hidayat, bersama Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli membahas kebutuhan peningkatan kompetensi sumber daya manusia agar mampu mengikuti perubahan teknologi dan tuntutan industri yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Jumhur menyoroti perkembangan upaya internasional dalam menjaga lapisan ozon. Ia menyebut terdapat perkembangan positif terkait kondisi lubang ozon yang menurutnya semakin mengecil.
“Gerakan Hari Ozon ini yang paling sukses karena lubang ozon itu mengecil. Ini bukti bahwa negara-negara semua patuh terhadap protokol internasional, baik Montreal maupun Kigali Amendment,” kata Jumhur di lokasi, Rabu (16/9/2026).
Baca juga: Wajah Baru Jl. M. Yamin Pasar Baru Bekasi, Jalan dan Drainase di Perbaiki serta PKL ditata
Jumhur mengatakan, Kementerian LH tengah berkolaborasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) untuk mendorong perubahan kompetensi tenaga kerja, khususnya mereka yang selama ini bekerja menggunakan freon.
Menurut dia, tenaga kerja tersebut perlu mendapatkan pelatihan agar mampu mengikuti metodologi dan teknologi baru yang lebih memperhatikan aspek lingkungan. Dalam kolaborasi itu, Kemnaker menyediakan tempat pelatihan, sementara Kementerian LH menyediakan peralatan yang dibutuhkan.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah tenaga kerja yang berkaitan dengan sistem pendingin dan tata udara atau Refrigeration and Air Conditioning (RAC).
“Ya, kalau ini berhasil, insyaallah dapat menghasilkan tenaga kerja hijau atau tenaga kerja yang diingatkan untuk mengurangi emisi dan kerusakan lingkungan,” jelas Jumhur.
Sementara itu, Menaker Yassierli mengatakan peringatan Hari Ozon Dunia juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan pemahaman mengenai persoalan lingkungan sekaligus mempersiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan industri.
Menurut Yassierli, dunia industri kini semakin memperhatikan aspek keberlanjutan. Perusahaan tidak hanya dituntut mengejar produktivitas, tetapi juga memperhatikan penggunaan energi, pengelolaan limbah, hingga penerapan prinsip-prinsip lingkungan.
“Bagi Kemnaker, sangat sadar bahwa industri berubah. Kesadaran akan pentingnya masalah-masalah lingkungan semakin meningkat. Perusahaan mengembangkan pendekatan berbasis sustainability. Perusahaan juga dituntut untuk tahu green energinya dari mana, sampahnya dikelola seperti apa, kalau pertanian ekspor pupuknya dari mana, energinya dari mana, sudah renewable atau belum, dan seterusnya,” kata Yassierli.
Ia menyebut perubahan menuju industri yang lebih hijau menjadi tantangan bagi dunia ketenagakerjaan. Namun, kondisi tersebut juga membuka peluang penciptaan jenis pekerjaan baru.
“Bagi kami, transisi menuju kepada industri yang lebih green ini di satu sisi adalah tantangan, tapi di sisi yang lain adalah peluang untuk penciptaan lapangan kerja yang baru, termasuk salah satunya,” jelasnya.
Yassierli menuturkan, salah satu bidang yang menjadi perhatian dalam kolaborasi Kemnaker dengan Kementerian LH adalah peningkatan kompetensi tenaga kerja di bidang RAC.
Tenaga kerja yang berprofesi sebagai teknisi maupun operator sistem pendingin didorong memiliki kemampuan yang sesuai dengan perkembangan teknologi sekaligus memahami aspek lingkungan.
“Selama ini sudah terjadi kolaborasi yang luar biasa dengan Kemen LH terkait dengan kompetensi skill terkait dengan green. Salah satunya ini kami berbicara terkait dengan apa yang disebut dengan reparasi terkait dengan RAC,” tuturnya.
Baca juga: Polisi Ringkus Terduga Pelaku Kekerasan, Korban Wanita Meninggal Dunia
Menurut Yassierli, penguatan kompetensi menjadi bagian penting dalam menghadapi transisi hijau. Sumber daya manusia tidak hanya dituntut memiliki kompetensi dan daya saing, tetapi juga wawasan lingkungan.
Operator dan teknisi RAC menjadi salah satu bidang yang dinilai memiliki peran dalam mendukung komitmen perlindungan lingkungan. Pemerintah juga akan mendorong pelatihan yang tersebar di berbagai balai Kemnaker.
“Kehadiran teman-teman nanti, ada pelatihan tersebar di sekian balai menjadi ujung tombak kita, ujung tombak negara dalam komitmen mengurangi terkait dengan risiko kerusakan ozon,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yassierli mengungkapkan bahwa proses transisi hijau tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga membutuhkan kesiapan sumber daya manusia.
Menurut dia, pengelolaan lingkungan bahkan telah membuka kesempatan kerja baru, salah satunya melalui aktivitas pemilahan sampah. Karena itu, penguatan kompetensi dinilai penting agar tenaga kerja Indonesia mampu mengikuti kebutuhan industri yang terus berubah.
Kemnaker juga meminta para kepala balai memperbarui skema kompetensi yang tersedia serta memastikan keberadaan instruktur di masing-masing balai.
Kolaborasi dengan Kementerian LH tidak hanya menyasar operator dan teknisi AC. Yassierli menyebut masih terdapat berbagai bidang lain yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja hijau seiring perubahan industri.
Terlebih, pemerintah telah memperoleh dukungan anggaran untuk program pelatihan tenaga kerja. Sebagian peserta diharapkan dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja hijau di berbagai sektor.
“Alhamdulillah dari Pak Presiden, kita mendapatkan dana untuk pelatihan 270 ribu orang. Nah, ini bisa dioptimalkan. Total anggarannya Rp1,7 triliun, ini harus kita optimalkan,” pungkasnya. (mam)
Oleh Jurnalis: Slamet B.
Editor: Sakha Linggana A.