PEREMPUAN  DAN  PEMBANGUNAN  BERKELANJUTAN

Oleh: Titing Kartika : Dosen  STIEPAR  YAPARI  Bandung –  Mahasiswa Doktor Manajemen Universitas Pendidikan Indonesia.

 

Kalimat “Perempuan yang penting harus bisa memasak dan mengurus rumah” sepertinya sudah tidak berlaku bagi para perempuan saat ini. Begitu juga dengan pertanyaan yang harus memilih apakah perempuan harus menjadi Ibu rumah tangga atau pekerja seolah melemahkan dan menunjukkan ketidakberdayaan perempuan. Padahal perempuan pun dapat berbagi peran selain sebagai ibu, mampu menjadi pekerja dan memiliki profesi lain yang juga dilakukan oleh kaum laki-laki.

Perempuan

Peran perempuan tak dapat dipandang sebelah mata. Kehadirannya memiliki peran penting tak hanya bagi kehidupan keluarga, namun untuk pembangunan suatu bangsa. Misalnya saja di sektor UMKM; peranan perempuan mencapai 53,76% dengan 97% para karyawannya adalah perempuan. Sementara itu jika dilihat dari nilai kontribusi perekonomian mencapai 61%. Dan lihat saja, pera pelaku start up business di era digital saat ini banyak diminati oleh kaum perempuan.

Mengoptimalkan peran perempuan secara tidak langsung adalah bagian dari upaya pemulihan dan transformasi ekonomi di tengah ragam krisis melanda dunia termasuk di Indonesia. Namun demikian tak sedikit dari kaum perempuan yang kehilangan haknya untuk mengekspresikan diri karena berbagai kendala.

Adanya dikotomi gender antara laki-laki dan perempuan masih menjadi permasalahan yang masih menimbulkan kerugian bagi pihak perempuan. Dalam kondisi itulah perempuan berada dalam kondisi yang tidak berdaya. Merujuk pada data World Economic Report (Maret, 2021) mengenai laporan Kesenjangan Gender Global (Global Gender Report), Indonesia berada pada skor 0,688 (peringkat 101 dunia dari 156 negara). Di bidang lain seperti  politik berada di peringkat 92 dunia, ekonomi peringkat 99, dan pendidikan peringkat 107.

Dari sisi politik, kiprah perempuan belumlah mencapai tingkat optimal. Jika melihat hasil pemilu tahun 2019, keterwakilan perempuan di DPR-RI mencapai 20,5%. Sebelumnya hanya 11,4% tahun 1997, 18,2% tahun 2009. Sementara itu turun menjadi 17% pada tahun 2014. Namun jika dibandingkan dengan tahun 1955, keterwakilan perempuan hanya 5,06%. Dengan kata lain telah terjadi peningkatan keterwakilan.

Perempuan juga ternyata tidak dapat lepas dari kasus kekerasan. Data SIMFONI PPA (Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak, Januari 2022), melaporkan terdapat 4.123 kasus dengan rincian 79% korban adalah menimpa perempuan dan sisanya 21% dialami oleh laki-laki. Menurut tempat kejadiannya korban perempuan tersebut mengalami kasus di rumah tangga (57, 4%), fasilitas umum (11,6%), sekolah (4,0%), tempat kerja (1,5%), Lembaga Pendidikan Kilat (0,1%) dan lainnya (25,4%). Sungguh ini suatu kenyataan yang miris, ternyata perempuan di Indonesia masih merasakan tekanan dan ketidaknyamaan dalam urusan rumah tangga.

Sebagai bentuk respon dan antisipasi terhadap berbagai bentuk kekerasan yang terjadi, terdapat beberapa pihak baik di tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota dalam membentuk layanan penanganan. Bentuk layanan tersebut seperti Women Crissis Center (WCC), Pusat Pelayanan Terpadu (PPT), Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A), yang didalamnya terdiri dari unsur  SKPD terkait, rumah sakit atau layanan medis, Aparat Penegak Hukum (APH), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Lembaga Perlindungan Anak (LPA) dan Organisasi Keagamaan.

Walaupun sudah tersedia berbagai unit layanan, belum semua perempuan yang menjadi korban melakukan pelaporan karena berbagai faktor seperti masih adanya rasa ketakutan dan merasa terintimidasi.

Pembangunan Berkelanjutan

Posisi perempuan dalam konteks SDGs (Sustainable Development Goals) atau Tujuan Pembangunan menempati tujuan no.5 yakni mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan. Terdapat 9 (sembilan) target diantaranya mencakup mengakhiri segala bentuk diskriminasi, bentuk kekerasan, menghapus segala hal yang membahayakan, menyadari dan menghargai pelayanan dan kerja domestik, mendapatkan hak yang sama, akses kesehatan, melakukan reformasi ekonomi, memperbanyak penggunaan teknologi terapan, serta mengadopsi dan menguatkan kebijakan yang jelas dan penegakkan  perundang-undangan untuk mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dan semua anak perempuan di semua level.

Pada kenyataanya, saat ini kaum perempuan terus berjuang untuk dapat memainkan perannya tanpa mengesampingkan kodratnya sebagai seorang ibu. Menjadi Ibu adalah peran yang tak mudah dengan menempatkan keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ekplorasi peran perempuan di luar dirinya sebagai Ibu tentulah tak mudah terlebih jika tidak didukung oleh kebijakan dan sarana pendukung lainnya. Bukankah orang-orang sukses dunia terlahir dari didikan seorang Ibu dirumahnya?

Membangun pola pikir menjadi salah satu penyebabnya. Tantangan sosial terkait dengan gender dan pemberdayaan perempuan di Indonesia terkadang terbentur dengan tradisi patrilineal dan nilai tabu atau pamali yang berlaku di beberapa lingkungan masyarakat. Adanya edukasi dan adaptasi di era digital menjadi suatu keharusan agar perempuan memahami peran dan fungsi sesuai dengan perkembangan zaman.

Kiranya, catatan ini sebagai refleksi berkenaan dengan Hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap tanggal 8 Maret yang tahun ini mengusung “Kesetaraan gender hari ini untuk masa depan yang berkelanjutan”, akan menjadi penyemangat kaum perempuan bahwa kehadirannya di tataran global sangat berarti. Perempuan di seluruh dunia diharapkan optimis membangun masa depan, memimpin tugas adaptasi dan mampu merespon perubahan iklim untuk mebangun masa depan yang berkelanjutan untuk semua pihak.

PENULIS  adalah Dosen STIEPAR YAPARI dan Ketua Lembaga Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Jurnal (LPPMJ). Saat ini sedang menyelesaikan studi program Doktor Manajemen Konsentrasi Pemasaran kajian pariwisata di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Penulis aktif menulis di media massa, baik lokal maupun nasional bertemakan pendidikan, pariwisata, sosial, dan budaya.

Selain  praktisi pendidikan, alumni dari Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini juga penulis aktif dalam kegiatan di berbagai komunitas menulis dan konsultan pariwisata. Ia pernah mendapatkan Program Beasiswa Unggulan (PBU) Kemendikbud Program Dual Master Degree di Universitas Sahid Jakarta studi Magister Manajemen Pariwisata dan di Universiti Utara Malaysia (UUM) program Master of Business Administration (MBA) in Tourism and Hospitality Management (2007-2009). Berbagai penghargaan telah diraih baik nasional maupun internasional diantaranya meraih the third outstanding paper Asia Tourism Forum (2016), Best Paper Presenter pada 4th International Seminar on Tourism (2020) dan meraih “Writer of the Month” dalam rangka mempromosikan wisata lokal di Indonesia dengan judul “ Simfoni Alam di Pasar Wisata Legokawi Cimahi” .(https://pratamamedia.com/simfoni-alam-di-pasar-wisata-legokawi-cimahi/, https://pratamamedia.com/penghargaan-writer-of-the-month-pratama-media-news/)

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *