KOTA BEKASI, KLIK INEWS.COM – Pengabdian Kepada Masyarakat (Abdimas) ini telah dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting dengan tema “Pelaksanaan kegiatan edukasi masyarakat mengenai hoax pada remaja melalui penyuluhan di Desa Pekopen Bulak, Tambun Selatan” yang dihadiri oleh anggota karang taruna Desa Pekopen Bulak RW 006 pada tanggal 25 dan 26 juni 2022 oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Bekais, guna memenuhi tugas akhir mata kuliah Disinformasi dan Pemeriksaan.
Kegiatan pengabdian ini dipimpin oleh Rr. Dinar Soelistyowati S.I.Kom., M.M., M.I.Kom selaku pemateri dan Dosen pembimbing. Dengan beranggotakan Reyhan Nur Fikri, Indra Purnama, Ariyona Nugrahaeni, Tiara Rosemerry, Destia Ningsih, Amara Dwi Oktaviani, Fajar Dwi Permana, Habib Nur Muhammad Taufik, Ari Wibowo, dan Dias Dwipa Nugraha.
“pelaksanaan kegiatan webinar dimulai dari pembukaan, sambutan wakil dari karang taruna, pemaparan materi, sesi diskusi dan tanya jawab, dan yang terakhir sesi foto bersama dengan peserta karang taruna,” ucap Rr. Dinar Soelistyowati S.I.Kom., M.M., M.I.Kom saat dikonfirmasi klikinews.com, Selasa (05/07/22).
Ebih lanjut kata Dinar, Pada hari pertama, webinar dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 juni 2022 pukul 10.00 WIB – selesai, dengan Indra Purnama sebagai MC, Dias Dwipa Nugraha sebagai pemateri, dan Amara Dwi Oktaviani sebagai narasumber yang menjawab pertanyaan dari audience.
Kegiatan hari kedua, webinar dilaksanakan pada hari Minggu, 26 juni 2022 pukul 19.00 WIB – selesai, dengan Reyhan Nur Fikri sebagai MC dan Rr. Dinar Soelistyowati S.I.Kom., M.M., M.I.Kom sebagai pemateri dan narasumber yang menjawab pertanyaan dari audience.
“berita hoax itu pada intinya adalah berita yang memang benar mengambil dari berita dasar yang memang berita benar, namun diolah sedemikian rupa sehingga faktanya akan menjadi berbanding terbalik dengan berita yang sebelumnya dikutip” Ucap Ibu Dinar Soelistyowati sebagai pemateri.
Setelah melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (Abdimas) ini diharapkan agar anggota karang taruna Desa Pekopen Bulak RW 006 mampu meningkatkan pengetahuan, wawasan, serta pengetahuan dalam mengenali Hoax dan mengetahui bagaimana langkah yang harus dilakukan dari dampak yang ditimbulkan dari adanya Hoax.
Ditempat terpisah, Kepala Pusat Studi Keamanan Nasional Ubhara Jaya Prof.(RIS) Hermawan Sulistyo menyampaikan dalam Orasi Kebudayaan yang dilaksankaan di Ubhara Jaya 4 Juli 2022, melalui pendekatan Sains Teknologi dan pendekatan intelektual, bangsa ini harus belajar melakukan moderasi.
makin beradab sebuah bangsa itu semakin berkurang aspek kekerasan , terutama kekerasan kolektif di dunia Internet. Dan ini penting diingatkan terus menerus,dan penting diterapkan pada menjelang tahun politik 2024 nanti, dan khususnya kepada para mahasiswa sebagai generasi bangsa juga harus lebih cerdas menyaring informasi di medsos.“Kalau komunikasi di medsos yang dimanfaatkan oleh oknum dalam menyebarkan hoax, sudah mengancam ketertiban umum dan keberlangsungan keberadaban bangsa ini, polisi harus bertindak. Ini masyarakat (Indonesia) yang paling bebas menggunakan Internet di dunia ini, masyarakat kalau dibatasi UU IT protes, katanya demokrasi yang lepas control, dalam hal komunikasi media sosial.
“ ini sudah jelas anarkisme, bagian dari demokrasi, hal itu akan merusak pendidikan penggunaan Internet itu harus lebih tinggi. Karena kalau tidak dibatasi, dunia ini bisa hancur menggunakan seenaknya menulis dan menyebarkannya di medsos, karena masyarakat kadang tidak bisa membedakan mana berita hoax mana berita yang benar ,” tuturnya.
Lebih lanjut kata Prof Hermawan , agar hoax ditekan dan masyarakat bisa memilah mana informasi yang benar dan mana yang salah, semua pihak agar turun tangan melakukan sosialisasi pencegahan. Karena sosialisasi itu bukan hanya pemerintah saja , perlunya ada keterlibatan akademisi dan masyarakat luas,” jelasnya.
“dalam orasi kebudayaan ini, saya ingin memberikan contoh kepada kawan – kawan akademisi di Ubhara dan yang lainnya. Supaya mereka melakukan hal yang sama. Karena, kalau tidak, bisa hancur bangsa ini. Karena orang sudah tidak bisa lagi membedakan mana hoax , dan mana benar. Polisi harus tegas dan memberikan sanksi untuk kasus seperti ini, kalau dibiarkan, hoax akan semakin merajalela merusak generasi bangsa kalau didiamkan terus,” tandasnya (asm).
- Amara Dwi Oktaviani
- Ari Wibowo
- Ariyona Nugrahaeni
- Destia Ningsih
- Dias Dwipa Nugraha
- Fajar Dwi Permana
- Habib Nur Muhammad Taufik
- Indra Purnama
- Reyhan Nur Fikri
- Tiara Rosemerry