RS Kartika Husada Jatiasih Tak Miliki Fasilitas CT MRI,Penyebab Pasien Anak Mati Batang Otak Meninggal

KLIKINEWS.COM, KOTA BEKASI – Rumah Sakit (RS) Kartika Husada Jatiasih,Kota Bekasi, Jawa Barat yang merupakan RS tipe C ini tidak memiliki fasilitas penunjang pemeriksaan berupa Computed Tomography (CT) Scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Hal itulah Penyebab pasien anak BA (7)  didiagnosa mati batang otak yang  telah meninggal dunia. 

Tim investigasi telah dibentuk, hasilnya diminta untuk dibuka secara transparan, serta diberikan sanksi tegas jika terbukti ada kelalaian. asien anak BA  sudah berada di rumah duka. Sejak dirawat hingga menghembuskan napas terakhir, keluarga menyebut belum dan tidak menerima informasi apa penyebab BA didiagnosis mati batang otak usai menjalani operasi amandel.

Sementara pihak RS Kartika Husada Jatiasih juga menyampaikan bahwa penyebab BA didiagnosa mati batang otak pada hari ke empat perawatan usai operasi dan tak sadarkan diri masih harus dipastikan dengan pemeriksaan penunjang.

“Diagnosa awal dilihat berdasarkan kondisi fisik pasien, tidak ada kemampuan bernapas spontan saat tekanan oksigen pada ventilator diturunkan. Tiga dokter bagian dari manajemen RS yang memberikan keterangan resmi mengaku secara etik tidak memiliki kapasitas untuk menjelaskan perihal diagnosa mati batang otak yang dialami BA,”ungkap Komisaris RS Kartika Husada,Nidya Kartika saat menggelar Presscon,Selasa (03/10/23).

Tim dokter yang menangani pasien selama di RS (DPJP) tidak bisa dihadirkan lantaran memenuhi panggilan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi. ” operasi amandel memang salah satu faktor resiko terjadinya mati batang otak. Namun, ada kemungkinan lain yang tidak bisa dikesampingkan,” jelas Nidya Kartika.

Ia menjelaskan bahwa setiap tindakan medis memiliki resiko, dan telah disampaikan oleh pihak RS kepada keluarga pasien. Untuk memastikannya, perlu dilakukan pembuktian dengan fasilitas penunjang pemeriksaan seperti CT Scan dan MRI.

Pemeriksaan penunjang ini kata Nidya, bagian dari tujuan pasien dirujuk ke RS lain dengan fasilitas lebih lengkap. Pemeriksaan tersebut tidak bisa dilakukan di RS Kartika Husada Jatiasih. “Ada pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan, dan itu tidak bisa disini,” tururnya.

Peristiwa yang menimpa BA jangan sampai terulang, investigasi juga ditekankan oleh Anggota komisi IV DPRD Kota Bekasi, Heri Purnomo untuk dilakukan secara serius. Investigasi untuk membuka penyebab diagnosa mati batang otak ini disampaikan awal pekan saat dapat dengan Dinkes Kota Bekasi.

“Kalau memang ada kelalaian, kesalahan prosedur sesuai dengan etika kedokteran misalnya, harus dikasih sanksi yang tegas. Baik pihak rumah sakit maupun dokter yang merawat, atau jajaran manajemen rumah sakit,” ungkapnya.

Proses investigasi kata Heri, harus dilakukan secara transparan, melihat dengan jernih apa yang terjadi, serta membuka apapun hasil yang ditemukan pada proses investigasi yang telah dilakukan.

Untuk itu, investigasi perlu melibatkan beberapa pihak, diantaranya Dinkes dan organisasi profesi. “Makanya saya berharap pihak Dinas Kesehatan serius untuk menangani kasus tersebut. Kita terbuka saja, jadi kedua belah pihak juga jangan sampai ada yang dirugikan,” bebernya (red/sah).

 

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *