Mentri KKP Akui, BINS Di Karawang  Menjadi Terobosan Budidaya Ikan Nila Miliki Nilai Ekonomi Tinggi Di Pasar Domestik

JAKARTA, Klikinews.com – Modeling kawasan tambak budidaya ikan nila salin (BINS)  yang  dibangun oleh Kementrian kelautan Dan perikanan (KKP) di lahan seluas 78 hektare yang berada di area Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) KabupatenKarawang. Total produksinya mencapai 7.020 ton/tahun atau senilai Rp196,5 miliar dengan asumsi harga jual nila salin Rp28 ribu/kilogram.

“Jumlah tersebut, masih akan terus ditingkatkan hingga mencapai 10.000 ton per tahun. Hasil produksi nila salin BINS ditujukan untuk mendukung industrilaisasi ikan nila di Indonesia. Hasil panen akan diolah lebih lanjut menjadi produk olahan ikan fillet dengan tujuan ekspor,” kata  Menteri  Kelautan Dan Perikanan, Trenggono kepada media, Jumat (08/06/24) di Jakarta.

KKP menargetkan ke depan , produksinya ikan nila dalam  1 tahun 10 ribu ton, dengan berat per ekor tidak kurang dari 1 kilogram, “tujuannya supaya bisa difillet. Dan tentunya ada industri, makanya tadi kami hadirkan juga pelaku industri,” jelas Trenggono dengan semangat #25TahunKKP #SailBeyondWithBlueEconomy #2024KKPBeyond #EkonomiBiru #MenteriKKP #KKPGOID #SaktiWahyuTrenggono #AJSB2024 #AJSB

Lebih lanjut kata Menteri Trenggono menjelaskan, bahwa ikan nila memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar domestik maupun global. Data Future Market Insight (2024), memproyeksikan nilai pasar ikan nila dunia pada tahun 2024 sebesar USD14,46 miliar. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat sebesar 59% pada tahun 2034 menjadi USD23,02 miliar dengan tingkat pertumbuhan pertahun (CAGR) 4,8%.

“Dari sisi teknis produksi, budidaya nila salin di BINS mengedepankan penggunaan teknologi modern diantaranya berupa mesin pakan otomatis, sistem kincir, dan alat pengukur kualitas air berbasis IOT dan tenaga surya. Selain itu, tambak sudah dilengkapi instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) sehingga ramah lingkungan. Nilai investasi yang digelontorkan KKP membangun BINS sebesar Rp46,6 miliar,” ujar Trenggono.

(Poto /Dok.Humas Kementrian kelautan Dan Perikanan ).

Di akui Mentri KKP, BINS  menjadi terobosan budidaya ikan nila di darat. Kebanyakan praktik budi daya ikan nila di Indonesia dilakukan di keramba jaring apung (KJA) yang secara ekologi tidak ramah lingkungan dan merusak ekosistem di danau serta menyebabkan pencemaran lingkungan.

Hadirnya BINS juga bisa menjadi solusi bagi tambak-tambak udang yang sudah tidak beroperasi optimal (idle). Untuk itu KKP merencanakan revitalisasi terhadap 78 ribu hektar tambak udang idle di Pantura Jawa, untuk pengembangan budidaya nila salin. “karena dari sisi produktivitas, budidaya nila salin jauh lebih produktif dengan hasil produksi 87,75 ton per hektare per tahun, dibanding tambak udang tradisional 0,6 ton per hektare per tahun,” bebernya

Menurut Trenggono, Ikan nila salin memiliki keunggulan antara lain lebih kuat terhadap kondisi lingkungan di Pantai Utara Jawa, dibandingkan dengan udang, teknologinya mudah diterapkan oleh masyarakat, “serta pasar yang selalu tersedia baik di domestik maupun global,”  pungkas Trenggono (red).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *