BEKASI,JABAR,Klikinews.com – PT Pertamina EP (PEP) Tambun Field Bekasi resmi berjabat tangan dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) untuk merajut sinergi yang lebih kuat. Kolaborasi tersebut bertempat di Swiss-Belcourt, Bogor, pada Jumat (17/04/2025).
Di balik kabut yang menyelimuti kanopi hutan Jawa Barat, sesosok primata mungil dengan rambut abu-abu dan jambul khasnya Surili bergantung pada keseimbangan alam yang kian rapuh. Bagi banyak orang, Surili mungkin hanya simbol. Namun bagi ekosistem Gunung Gede Pangrango, ia adalah “sang mandat”, penjaga sirkulasi kehidupan yang keberadaannya kian terhimpit oleh zaman.
Menyadari bahwa krisis keanekaragaman hayati adalah tantangan di depan mata, sebuah langkah besar. Pertemuan tersebut bukan hanya tentang penandatanganan dokumen di atas meja. Di dalamnya ada misi besar yaitu Penguatan Fungsi Taman Nasional. “Fokusnya jelas, yakni memperkokoh kelembagaan dan memastikan flora serta fauna di dalamnya, terutama Surili tetap memiliki rumah yang aman untuk masa depan,” ujar Senior Manager PEP Tambun Field, Totok Parafianto kepada media, Jumat (5/6/2026) di Bekasi,
Dalam acara tersebut, Totok Parafianto menekankan, bahwa di era sekarang, menjaga alam tidak bisa lagi dilakukan dengan sendiri. “Tantangan lingkungan saat ini memerlukan kolaborasi bersama lintas sektoral. Kolaborasi ini adalah bentuk nyata korporasi dan lembaga konservasi menyatukan visi untuk menghasilkan dampak yang lebih luas,” ungkap Totok dengan nada optimis.
Bagi Totok, kolaborasi ini adalah manifestasi dari visi bersama. Ia menegaskan bahwa Pertamina EP Tambun Field berkomitmen penuh mendukung Balai Besar TNGGP melalui penyatuan keahlian dan inovasi untuk mengawal fungsi paru-paru hijau Jawa tersebut.

Agar kerja sama ini tidak hanya menjadi wacana, kedua belah pihak menyepakati tiga pilar utama. Pertama, Sinergi Keahlian yang menyatukan sumber daya manusia dari industri dan pengetahuan lapangan dari rimbawan. Tujuannya untuk menciptakan sistem perlindungan ekosistem yang lebih efektif bagi satwa-satwa yang terancam. Kedua, Inovasi dan Riset yang memasukkan sentuhan teknologi terkini dan data ilmiah yang presisi ke dalam setiap langkah konservasi. Ketiga, Kemanfaatan Berkelanjutan untuk membuktikan narasi bahwa alam yang lestari tidak harus meminggirkan manusia. Sebaliknya, hutan yang sehat harus mampu beriringan dengan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
“Langkah yang diambil Pertamina EP Tambun Field dan Balai Besar TNGGP ini seolah memberi napas baru bagi upaya pelestarian yang selama ini mungkin terasa berjalan sendiri-sendiri. Dengan menyatukan visi, upaya melindungi Surili dan kekayaan hayati lainnya kini memiliki fondasi yang lebih kokoh,” jelasnya,
Sebab pada akhirnya,lanjut Totok, seperti yang sering diingatkan oleh para rimbawan, menjaga Gede Pangrango bukan hanya soal menjaga pohon dan primata, melainkan menjaga warisan kehidupan yang dinamis agar tetap bisa dinikmati oleh generasi yang akan datang. “Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa ketika energi dan konservasi bertemu, dampak yang dihasilkan akan jauh melampaui batas-batas peta wilayah kerja,” tuturnya (red).
Editor : Aisyahra Mulyawati