BEKASI,JABAR,Klikinews.com — Dosen Program Studi Diploma III (D3) Farmasi Politeknik Bhakti Kartini melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat (PKM) melalui kegiatan pemberdayaan Pesantren Al Fatah dalam pengembangan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Kegiatan ini merupakan bagian dari program hibah PKM yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan potensi tanaman obat untuk mendukung kemandirian Kesehatan yang dilaksanakan pada Jumat ( 4/9/2026) di Pesantren Al-Fatah Bekasi,Jawa Barat.
Program yang mengusung tema “Pemberdayaan Pesantren Al Fatah melalui Edukasi dan Implementasi Tanam–Rawat–Simpan–Olah TOGA untuk Kemandirian Kesehatan Masyarakat” ini dilaksanakan secara bertahap dengan melibatkan pengelola pesantren dan santri sebagai mitra kegiatan.
Penyuluhan TOGA Tingkatkan Pengetahuan Santri :
Ketua tim pelaksana, apt. Ayu Fajariyani, S.Farm., M.Farm,mengatakan, Sebagai tahap awal, tim dosen DIII Farmasi Politeknik Bhakti Kartini memberikan penyuluhan dan edukasi mengenai TOGA kepada santri dan pengelola Pesantren Al Fatah. Penyuluhan dilakukan secara interaktif melalui penyampaian materi, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, serta praktik langsung,
“Materi edukasi meliputi pengertian dan manfaat TOGA, pengenalan jenis tanaman obat, pemilihan tanaman sesuai kebutuhan, manfaat tanaman obat bagi kesehatan, cara penanaman, pemeliharaan, pemanenan, penyimpanan, hingga pemanfaatan tanaman obat secara tepat dan aman,” kata Ayu Fajriyani saat di konfirmasi media klikinews.com, Jumat (4/9/2026).
Dalam penyuluhan tersebut,kata Ayu, peserta juga diberikan pemahaman bahwa penggunaan tanaman obat perlu dilakukan secara bijak. Tidak semua tanaman dapat digunakan secara bebas, sehingga diperlukan pengetahuan mengenai identifikasi tanaman, bagian tanaman yang digunakan, cara pengolahan, dosis atau jumlah penggunaan, kebersihan bahan, serta kondisi yang memerlukan konsultasi dengan tenaga kesehatan.
“Penyuluhan tidak hanya dilakukan dalam bentuk teori. Peserta diajak mengamati tanaman secara langsung dan mempraktikkan tahapan sederhana pengelolaan TOGA sehingga materi yang diberikan dapat lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.![]()
Bersama tim dosen DIII Farmasi Politeknik Bhakti Kartini Bekasi, Ayu memaparkan, bahwa edukasi merupakan bagian penting dalam program pemberdayaan tersebut. “Kami ingin agar santri dan pengelola pesantren tidak hanya mengenal nama dan manfaat tanaman obat, tetapi juga memahami cara menanam, merawat, menyimpan, dan mengolahnya dengan benar. Edukasi menjadi dasar agar pemanfaatan TOGA dilakukan secara tepat dan aman,” tutur Ayu,
Dosen Farmasi Dorong Pemanfaatan Potensi Lokal
Setelah kegiatan penyuluhan, tim melanjutkan kegiatan dengan identifikasi dan persiapan lahan TOGA. Tim dosen mendampingi mitra dalam mempersiapkan lahan, menentukan jenis tanaman, menyiapkan kebutuhan menanam, serta memilih bibit yang sesuai dengan tujuan pengobatan di pesantren.
Santri Pesantren Al Fatah bersama mahasiswa Program Studi DIII Farmasi terlibat langsung dalam proses tersebut. Keterlibatan peserta secara aktif menjadi bagian penting dari pendekatan pemberdayaan yang diterapkan oleh tim dosen DIII Farmasi Politeknik Bhakti Kartini. Menurut tim pelaksana, keberadaan kebun TOGA di lingkungan pesantren dapat menjadi sarana pembelajaran bagi santri sekaligus memanfaatkan lahan yang tersedia agar lebih produktif.
Dari Tanam hingga Olah
Program PKM ini menggunakan pendekatan Tanam–Rawat–Simpan–Olah. Setelah penanaman, mitra mendapatkan pelatihan mengenai pemeliharaan tanaman yang meliputi penyiraman, pemupukan, penyiangan, pemantauan pertumbuhan, serta pengendalian hama sederhana. Tim juga mendampingi mitra dalam menyusun jadwal pemeliharaan dan pembagian tugas antara santri dan pengelola pesantren. Dengan sistem tersebut, kebun TOGA diharapkan dapat tetap terawat meskipun kegiatan pendampingan dari perguruan tinggi telah selesai.
Tahap berikutnya adalah edukasi dan praktik penanganan hasil tanaman obat. Mitra diberikan pemahaman mengenai waktu pemanenan yang tepat, sortasi, pencucian, pengeringan, serta penyimpanan bahan herbal atau simplisia. Edukasi ini diberikan untuk membantu mitra menjaga kualitas bahan tanaman obat sebelum dimanfaatkan lebih lanjut. Program kemudian dilanjutkan dengan tahap olah, yaitu pelatihan pemanfaatan tanaman obat menjadi produk herbal sederhana. Peserta memperoleh pengalaman dalam mempersiapkan bahan, melakukan proses pengolahan termasuk pengeringan tanaman obat menjadi simplisia menggunakan oven, serta memahami prinsip kebersihan, pengemasan, pelabelan, dan penyimpanan produk.
Membangun Kemandirian Kesehatan Berbasis Pesantren

Tim dosen DIII Farmasi Politeknik Bhakti Kartini berharap kegiatan PKM ini dapat memberikan dampak jangka panjang bagi Pesantren Al Fatah. Kebun TOGA diharapkan tidak hanya menjadi hasil fisik kegiatan, tetapi berkembang menjadi sarana edukasi kesehatan, pembelajaran bagi santri, dan pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
“Program ini kami harapkan dapat terus dilanjutkan oleh mitra. Pesantren memiliki potensi untuk menjadi lingkungan pembelajaran yang mengintegrasikan pendidikan, kesehatan, dan pemanfaatan sumber daya alam secara bijak,” tambah Ayu,
Melalui program hibah PKM tersebut, dosen DIII Farmasi Politeknik Bhakti Kartini tidak hanya menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga berupaya menghadirkan kontribusi nyata keilmuan farmasi di tengah masyarakat.![]()
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kemandirian kesehatan berbasis potensi lokal, sekaligus memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan, dan pengembangan masyarakat.
Tentang Kegiatan
Program PKM “Pemberdayaan Pesantren Al Fatah melalui Edukasi dan Implementasi Tanam–Rawat–Simpan–Olah Tanaman Obat Keluarga (TOGA) untuk Kemandirian Kesehatan Masyarakat” dilaksanakan oleh Dosen Program Studi DIII Farmasi Politeknik Bhakti Kartini melalui program hibah Dikti pengabdian kepada masyarakat dengan Pesantren Al Fatah sebagai mitra kegiatan.
Rangkaian kegiatan meliputi penyuluhan dan edukasi TOGA, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, penanganan dan penyimpanan bahan tanaman obat, serta edukasi dan praktik pengolahan tanaman obat. “Salah satu outcome dalam kegiatan ini pemanfaatan tanaman obat menjadi produk herbal sederhana yang dapat dimanfaatkan bagi lingkungan pesantren. Kegiatan ini melibatkan santri dan pengelola pesantren secara aktif sebagai bagian dari upaya membangun keberdayaan dan keberlanjutan program,” tutup Ayu (red ).
Sumber : “Dosen D3 Farmasi Politeknik Bhakti Kartini Bekasi- Apt. Ayu Fajariyani, S.Farm. M.Farm “
Editor : Aisyahra Mulyawati