Ini Kata Dr. dr. Irsan Hasan : Waspada Penyakit Fatty Liver Buat Orang Suka Minuman Manis Dan Merasa Lelah

JAKARTA,KlikINews.com –  Penyakit Fatty liver atau perlemakan hati adalah kondisi penumpukan lemak berlebih di dalam sel-sel hati yang perlahan dapat mengganggu fungsi organ tersebut. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. dr. Irsan Hasan, Sp.PD-KGEH, FINASIM, FACG, Konsultan Gastroenterohepatologi di Eka Hospital MT Haryono saat menggelar diskusi kesehatan dengan tema”Fatty Liver ” pada Selasa (27/10/2026) di Cikini, Jakarta Pusat.  

Dunia medis saat ini menggambarkan perlemakan hati berkaitan erat dengan gangguan metabolisme. Organ hati yang sehat secara alami memang mengandung sejumlah kecil lemak. Namun, ketika berat lemak sudah melebihi 5% hingga 10% dari total berat organ hati, kondisi tersebut secara medis diklasifikasikan sebagai fatty liver. Meningkatnya kasus fatty liver atau Metabolic dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD).

“belakangan ini cukup mengkhawatirkan. Peningkatan kasus perlemakan hati ini sangat berhubungan dengan gaya hidup modern yang sarat oleh pola makan tinggi kalori, konsumsi makanan ultra-proses, dan kurangnya aktivitas fisik harian dan gaya hidup sehat,” ujar Dr. dr. Irsan Hasan, Sp.PD-KGEH, FINASIM, FACG di Jakarta,

Dari penelitiannya, bahwa minuman manis bisa menyebabkan fatty liver. Konsumsi minuman manis secara berlebihan merupakan salah satu penyebab fatty liver karena kandungan gula, khususnya fruktosa, akan langsung diproses oleh organ hati dan diubah menjadi cadangan lemak.

Menurut Dr.dr.Irsan Hasan, berbeda dengan glukosa yang dapat diserap dan digunakan oleh hampir seluruh sel tubuh sebagai energi, fruktosa memiliki jalur metabolisme yang unik. Hampir seluruh fruktosa yang masuk ke dalam tubuh harus dimetabolisme di dalam hati. Ketika Anda minum minuman manis dalam jumlah besar, organ hati akan kewalahan memproses lonjakan fruktosa tersebut.

“Hati mau tidak mau akan mengubah kelebihan fruktosa menjadi trigliserida (lemak) melalui proses yang disebut lipogenesis de novo. Lemak-lemak baru ini kemudian menumpuk di dalam sel-sel hati. Selain itu, asupan gula tinggi secara terus-menerus akan memicu resistensi insulin. Resistensi insulin membuat sel-sel tubuh kebal terhadap hormon insulin, sehingga pankreas memproduksi lebih banyak insulin untuk menstabilkan gula darah. Tingginya kadar insulin di dalam darah ini secara aktif merangsang hati untuk terus menimbun lebih banyak lemak, menciptakan siklus setan yang memperparah kondisi perlemakan hati.” Ungkapnya,

oppo_34

Apakah rasa lelah tanda fatty liver?

Rasa lelah kronis adalah salah satu gejala yang dikeluhkan oleh penderita fatty liver, meskipun keluhan mudah lelah ini sangat tidak spesifik dan sering kali menyerupai kelelahan biasa. , termasuk menyimpan cadangan energi dalam bentuk glikogen, memproduksi protein, dan membersihkan racun dari aliran darah. “Ketika sel-sel hati dipenuhi oleh tumpukan lemak, terjadi peradangan lokal yang memicu pelepasan zat-zat peradangan (sitokin) ke seluruh tubuh. Peradangan sistemik inilah yang mengirimkan sinyal ke otak dan menciptakan sensasi lelah, lesu, dan kehabisan tenaga, meskipun Anda sudah tidur cukup,”paparnya,

Namun, Dr. dr. Irsan Hasan menekankan, bahwa fatty liver dikenal sebagai silent disease atau penyakit diam-diam sehingga perlu diwaspadai. Pada stadium awal, perlemakan hati sering tidak menimbulkan gejala sama sekali. “Untuk memastikan apakah kelelahan akibat dari fatty liver, perlu dilakukan pemeriksaan,” jelasnya lagi,Siapa yang paling berisiko?

Orang yang paling berisiko mengalami fatty liver adalah mereka yang memiliki satu atau lebih sindrom metabolik, seperti obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, dan kelainan profil lipid (kolesterol). Fatty liver jarang muncul sendiri. Kondisi perlemakan hati umumnya terjadi akibat kacaunya metabolisme tubuh secara keseluruhan.

Berikut adalah daftar kelompok yang memiliki risiko tinggi terkena MASLD:

  • Penderita obesitas: Terutama individu yang memiliki penumpukan lemak di area perut.
  • Penderita diabetes tipe 2 dan pradiabetes: Resistensi insulin adalah motor penggerak utama penumpukan lemak di hati.
  • Pasien dengan dislipidemia: Memiliki kadar trigliserida yang tinggi dan kadar kolesterol baik (HDL) yang rendah di dalam darah.
  • Penderita hipertensi: Tekanan darah tinggi sering berjalan beriringan dengan gangguan metabolik lainnya.
  • Sering mengonsumsi minuman manis: Individu yang rutin mengonsumsi minuman kemasan tinggi gula atau fruktosa.

Mengapa fatty liver tidak boleh diabaikan?

 Fatty liver tidak boleh diabaikan karena penumpukan lemak yang dibiarkan bertahun-tahun akan memicu peradangan kronis yang perlahan menghancurkan sel-sel hati sehat dan mengubahnya menjadi jaringan parut (fibrosis). Jika tidak segera ditangani melalui perubahan gaya hidup, MASLD akan tambah parah secara bertahap dan dapat mengancam nyawa.

“Pada fase ini, lemak mulai menumpuk di dalam sel hati namun belum memicu peradangan yang signifikan. Tingkat keparahannya masih tergolong ringan, sel hati belum rusak, dan kondisi ini bisa disembuhkan secara total dengan perbaikan gaya hidup,” tuturnya,”bebernya

Bagaimana cara mengetahui apakah saya mengalami fatty liver?

Untuk mengetahui secara pasti apakah Anda mengalami fatty liver, dokter spesialis gastroenterohepatologi akan melakukan wawancara medis, tes darah fungsi hati, serta pemeriksaan pencitraan medis noninvasif seperti USG atau FibroScan.

“Mengingat gejala fatty liver yang sangat minim, skrining dini adalah kunci utama. Tes darah untuk enzim hati (seperti SGOT dan SGPT) memang dapat mendeteksi adanya peradangan, namun enzim hati yang normal tidak selalu menjamin hati bebas dari tumpukan lemak. Oleh karena itu, pemeriksaan pencitraan sangat dibutuhkan,” jelasnya,

Eka Hospital MT Haryono Jakarta hadir dan dilengkapi dengan fasilitas FibroScan, yakni teknologi ultrasound khusus yang diakui secara global sebagai standar emas non-invasif untuk memeriksa hati. FibroScan mampu mengukur dua hal sekaligus secara cepat, akurat, dan tanpa rasa sakit: tingkat tumpukan lemak (steatosis) dan tingkat kekakuan hati (fibrosis). Evaluasi menggunakan FibroScan sangat membantu dokter dalam menentukan stadium penyakit dan merencanakan terapi yang paling presisi.

Cara mencegah fatty liver

Pencegahan dan penanganan fatty liver berpusat pada mengganti gaya hidup secara konsisten, terutama membatasi asupan gula harian, meningkatkan aktivitas fisik, dan menurunkan berat badan secara bertahap bagi penderita obesitas.

Dr. dr. Irsan Hasan, Sp.PD-KGEH, FINASIM, FACG menegaskan bahwa obat terbaik untuk fatty liver pada tahap awal bukanlah pil atau suplemen, melainkan perubahan pola makan. Anda dapat mulai melindungi fungsi hati dengan langkah-langkah berikut:

Kurangi gula tambahan: Hentikan atau kurangi secara drastis kebiasaan mengonsumsi minuman manis, soda, jus buah kemasan, dan camilan manis. Ganti dengan air putih, teh tanpa gula, atau kopi hitam.

Turunkan berat badan: Penurunan berat badan sebesar 7% hingga 10% dari total berat tubuh terbukti secara medis mampu mengurangi peradangan hati dan menguras tumpukan lemak. Lakukan secara bertahap, hindari diet ekstrem yang menurunkan berat badan terlalu drastis karena justru dapat memperburuk peradangan hati.

Coba diet Mediterania: Perbanyak asupan sayuran, buah utuh kaya serat, biji-bijian, dan lemak sehat (seperti minyak zaitun dan alpukat). Hindari makanan ultra-proses dan lemak trans.

Olahraga rutin: Lakukan aktivitas fisik intensitas sedang seperti jalan cepat, berenang, atau bersepeda setidaknya 150 menit per minggu. Olahraga membantu memperbaiki sensitivitas insulin dan membakar cadangan lemak di hati.

FAQ seputar fatty liver dan minuman manis

  1. Apakah fatty liver bisa sembuh? Ya, fatty liver pada tahap awal (steatosis) dan peradangan tingkat sedang (MASH) masih sangat bisa disembuhkan atau dibalikkan (reversible). Perubahan pola makan dan penurunan berat badan secara konsisten dapat membersihkan penumpukan lemak dan mengembalikan fungsi hati menjadi normal.
  1. Berapa banyak gula yang aman per hari?

Kementerian Kesehatan RI dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan batas konsumsi gula tambahan maksimal 50 gram (sekitar 4 sendok makan) per hari untuk orang dewasa. Satu gelas minuman boba atau es kopi susu kekinian sering kali sudah mengandung 30 hingga 50 gram gula, yang langsung menghabiskan batas aman harian Anda.

  1. Apakah minuman “less sugar” atau pemanis buatan aman untuk hati? Meski “less sugar” terlihat lebih baik, gula pada minuman less sugar tetap memengaruhi total asupan fruktosa harian Anda. Jadi tetap bijak mengonsumsinya. Sementara itu, meski pemanis buatan (seperti aspartam atau sukralosa) tidak diproses menjadi lemak di hati seperti fruktosa, namun konsumsi jangka panjang tetap perlu dibatasi karena dapat memengaruhi keseimbangan bakteri baik di usus yang berdampak pada kesehatan metabolisme.
  2. Apakah orang kurus bisa terkena fatty liver?

Sangat bisa. Terdapat kondisi yang disebut Lean MASLD, di mana individu dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) normal tetap mengalami perlemakan hati. Kondisi ini umumnya dipicu oleh penumpukan lemak viseral di rongga perut, faktor genetik, atau resistensi insulin yang tersembunyi.

  1. Kapan sebaiknya mulai memeriksakan hati?

Jika Anda sering mengonsumsi minuman tinggi gula beberapa waktu ke belakang dan merasakan mudah lelah yang tidak wajar, segeralah ke dokter. Apalagi jika sebelumnya Anda telah didiagnosis mengidap diabetes, hipertensi, obesitas, maupun kolesterol tinggi.

Penyakit perlemakan hati sangat berbahaya jika didiamkan. Rasa lelah yang sering Anda alami mungkin merupakan pertanda awal dari tubuh yang meminta Anda untuk segera mengubah kebiasaan. Semakin dini fatty liver terdeteksi, semakin besar peluang Anda untuk membalikkan kondisi tersebut dan mencegah kerusakan organ secara permanen. (red).

 

 

 

 

Editor : Aisyahra Mulyawati

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *