KOTA BEKASI,Klikinews.com – Layanan Hemodialisa atau di kenal dengan cuci darah akan terus bertumbuh dan akan terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang semakin baik bagi seluruh pasien di Pimaya Hospital Bekasi Utara dengan didukung fasilitas dan tenaga yang berpengalaman. Saat ini unit layanan hemodialisa juga telah didukung oleh dokter sub spesialis Ginjal & Hipertensi serta dokter spesialis Torak & Kardiovaskular.
“Kami disini bukan hanya dibatasi sebagai tenaga medis dan pasiennya saja, tetapi kita sudah menjadi keluarga antara dokter, perawat dan pasien,” ungkap Dokter Spesialis Penyakit Dalam & Dokter Penanggung Jawab Unit Hemodialisa Primaya Hospital Bekasi Utara, dr. Irsyal Rusad, Sp.PD saat di konfirmasi media klikinews.com, Selasa (3/6/25).
Menurut dr. Irsyal, Hemodialisa adalah salah satu terapi pengganti ginjal, dikenal juga cuci darah di luar tubuh untuk seseorang yang ginjalnya sudah tidak bekerja secara normal. Terapi ini didukung oleh kerja sama tim yang beranggotakan dokter spesialis penyakit dalam ,dokter nefrologi dan dokter umum yang sangat kompeten, bersertifikasi HD (Hemodialisa),Serta perawat yang terampil, mahir dan bersertifikat.
Layanan Hemodialisa Primaya Hospital mampu memberikan kenyamanan dan keamanan untuk pasien selama menjalani terapi ini di rumah sakit. “Ginjal yang sehat dapat membersihkan darah Anda. Ginjal juga membentuk zat-zat yang menjaga tubuh untuk tetap sehat. Hemodialisa menggantikan beberapa manfaat dari ginjal ketika ginjal sudah tidak lagi bekerja,” jelas dr. Irsyal Rusad,
Lebih lanjut kata dr.Irsyal Rusad, Hemodialisa dibutuhkan ketika ginjal tidak lagi dapat bekerja dengan baik sehingga tubuh memiliki zat-zat yang seharusnya sudah dibuang dari darah atau cairan tubuh.
“Kondisi ini biasanya membuat pasien mengalami gejala seperti mual, muntah-muntah,tidak ada nafsu makan, sesak nafas, pembengkakan, hingga lemah dan lesu, dan penurunan kesadaran. Namun, gejala tersebut tidak selalu muncul. Maka dari itu, bagi Masyarakat, dan melakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara dini apa lagi yang punya faktor risiko, misalnya, hipertensi, diabetes mellitus, obesitas, riwayat keluarga dengan penyakit ginjal kronis.”Pentingnya menjaga makanan untuk kesehatan ginjal juga diperlukann” ucapnya
Bagaimana Cara Kerja Hemodialisa?
Mesin yang dikenal sebagai dializer berperan sebagai ginjal artifisial (ginjal buatan) yang digunakan untuk membersihkan darah. Untuk melakukan hemodialisa, dokter perlu membuat akses atau jalan masuk ke pembuluh darah pasien, biasanya pada bagian tangan. Di dalam mesin ini, terdapat bagian-bagian yang bertugas menyaring darah pasien.
“Hemodialisa ini dapat menyingkirkan zat-zat kotor, sampah atau limbah dari produk samping proses pembakaran dalam tubuh serta air berlebih yang berada di tubuh pasien. Selain itu, beberapa zat-zat kimia dalam tubuh juga dijaga keseimbangannya,” ujarnya,
Terapi ini bisa dilakukan dua atau riga kali dalam satu minggu. Banyaknya terapi yang dibutuhkan oleh pasien tergantung pada seberapa baik ginjal pasien masih bekerja, seberapa banyak cairan yang pasien dapatkan di antara tiap terapi, kenaikan berat badan pasien, banyak zat sampah, limbah yang berada di darah, serta tipe alat Hemodialisa yang digunakan. “ Sebelum terapi dimulai, dokter akan memberikan pasien penjelasan tentang berapa banyak cuci darah yang perlu pasien lakukan dalam satu minggu,”ungkapnya lagi,
Apakah Hemodialisa Membutuhkan Pola Makan Khusus?
Pasien yang sudah menajali hemodialisa, pola makannya tidak jauh berbeda dengan orang normal. Yang utama adalah pembatasan asupan cairan, mengurangi garam, makanan yang tinggi kandungan fosfor, dan kalium.
“Pasien diabetes atau kondisi kesehatan lainnya akan memiliki pola makan yang lebih ketat. dalam proses ini, diharapkan pasien yang berobat di Primaya Hospital Bekasi Utara, dengan kondisi kesehatan khusus dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter yang menanganinya . Tim yang menangani pasien dalam proses terapi akan menjaga dan memantau perkembangan pasien dengan berbagai pemeriksaan untuk memastikan kondisi pasien yang lebih optimal,” tutup dr. Irsyal Rusad (red).