Strategi Penguatan Manajemen Pelatihan Teknis Perkarantinaan Melalui Inovasi SIMPATIK

KLIKINEWS.COM,BEKASI – Badan Karantina Indonesia meluncurkan strategi penguatan manajemen pelatihan perkarantinaan untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang kuat melaluI Inovasi Sistem Manajemen Pelatihan Karantina (SIMPATIK), pada hari Kamis, (09/11) di Lampung.

Kepala Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian Setu Bekasi, Raden Nurcahyo Nugroho mengatakan,tantangan dan dinamika lingkungan strategis senantiasa berkembang menuntut organisasi pemerintah untuk selalu berbenah dan bertransformasi ke arah yang lebih baik. “Dalam rangka mendukung proses perubahan organisasi, diperlukan dukungan kinerja yang efektif dari seluruh sumber daya manusia karantina Indonesia,” kata Raden Nurcahyo Nugroho kepada klikinews, Senin (13/11/23) di Bekasi.

Lahirnya Undang-Undang Nomor 21 tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, serta Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 45 tahun 2023 tentang Badan Karantina Indonesia telah mengamanahkan bahwa ,

“penyelenggaraan karantina harus mengikuti perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi, lingkungan strategis yang cepat dan dinamis, terutama laju arus perdagangan antarnegara,” jelasnya.

Inovasi SIMPATIK menyajikan metode pelatihan SDM  dalam tiga bentuk yaitu Digital, Blended Learning, dan Klasikal dengan berbasis Learning Management System (LMS). Ketiga bentuk pelatihan tersebut sangat dibutuhkan dalam mengakselerasi peningkatan Kompetensi SDM Karantina di seluruh wilayah Indonesia, “ tujuannya agar mampu menghadapi tantangan global dan mengatasi berbagai permasalahan perkarantinaan yang terjadi di lapangan,” ujar Raden Cahyo

Kejadian penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), dan African Swine Fever (ASF) telah nyata menimbulkan kerugian besar bagi plasma nutfah dan peternakan Indonesia. Ditolaknya ekspor komoditas pertanian dan perikanan Indonesia akibat temuan penyakit tumbuhan dan ikan, juga mengakibatkan kerugian yang memukul semangat pelaku usaha untuk mengekspor komoditasnya.

“Seluruh permasalahan tersebut dapat dicegah, diatasi dan dikelola dengan baik, bilamana Kompetensi SDM Karantina berhasil ditingkatkan secara progresif dan berkelanjutan. Inovasi SIMPATIK, diyakini mampu mewujudkan SDM Karantina yang memiliki kompetensi tinggi dan kuat,” ujarnya

Dengan berbasis pada LMS yang dapat digunakan kapanpun dan dimanapun baik secara synchronous maupun asynchronous, pegawai karantina di seluruh wilayah Indonesia termasuk di perbatasan negara akan terus terpelihara kapasitas teknisnya dengan baik.

“Substansi pelatihan yang strategis dan dibutuhkan secara aktual dalam operasional perkarantinaan, diselenggarakan secara sistematis, efektif dan efisien.

Inovasi SIMPATIK menjadi piranti utama dalam membangun SDM Karantina yang Kuat di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia, Badan Karantina Indonesia,” bebernya (red).

 

 

Editor : KiKi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *