Mengenal Lupus, Penyakit Autoimun Yang Bisa Serang Hampir Seluruh Tubuh

KOTA BEKASI, JABAR (klikinews.com) – Penyakit Lupus, atau biasa juga dikenal dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE), adalah salah satu penyakit autoimun yang dampaknya bisa dirasakan oleh seluruh tubuh. Kejadiannya di Indonesia sendiri mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Ada banyak hal yang menyebabkan angka kasus lupus ini meningkat. Beberapa di antaranya adalah paparan zat kimia dari makanan dan lingkungan, serta polusi udara. Meski demikian, lupus bukanlah suatu hal yang tidak bisa dikontrol, apalagi dengan kemajuan teknologi kesehatan saat ini. Memahami penyebab dan gejala lupus dapat membantu Anda mendeteksinya sejak dini sehingga pengobatannya pun dapat tepat sasaran.

Konsultan Alergi dan Imunologi Eka Hospital Bekasi, dr. Anshari Saifuddin Hasibuan, Sp.PD, KAI memaparkan pengertian Lupus, atau SLE, adalah penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan pada organ yang terdampak.

Autoimun sendiri adalah kondisi ketika sel-sel kekebalan tubuh keliru mengenali jaringan sehat dalam tubuh sebagai zat asing, sehingga berusaha menghancurkannya. Lupus dapat memengaruhi berbagai organ tubuh, seperti persendian, kulit, otak, paru, ginjal, jantung, dan pembuluh darah. Sayangnya, lupus tidak bisa sembuh secara total. Walau demikian, pengobatan yang tepat dapat membantu meredakan gejalanya sehingga kualitas hidup pasien dapat meningkat,” kata dr. Anshari Saifuddin Hasibuan, Sp.PD, KAI, Minggu (17/03/24).

Lebih lanjut kata dr. Anshari, Lupus disebabkan oleh kondisi autoimun. Belum diketahui apa yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh justru keliru menyerang sel-sel sehat dalam tubuh. Namun, kondisi ini dipercaya berhubungan dengan faktor lingkungan, genetik, dan hormon. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami lupus, antara lain:

  • Sinar matahari. Paparan sinar matahari dapat menyebabkan luka pada kulit atau memicu respons tubuh pada orang yang memang rentan.
  • Infeksi. Infeksi dapat menyebabkan respons peradangan dalam tubuh yang dapat memicu terjadinya lupus
  • Hormon. Reaksi tubuh terhadap hormon tertentu (khususnya estrogen) dapat memicu terjadinya lupus

“Namun, perlu diingat bahwa setiap orang mungkin memiliki pemicu yang berbeda-beda. Selain itu, tidak semua orang pasti akan terserang lupus hanya karena terpapar oleh pemicunya,” jelasnya.

Lupus adalah penyakit peradangan yang menyerang hampir seluruh organ tubuh. Itu sebabnya, gejala yang muncul bisa sangat beragam bergantung pada area mana yang terdampak, dalam skala ringan hingga berat. Pada kulit, salah satu gejala lupus yang paling khas adalah munculnya ruam di wajah, tepatnya melebar antara pipi dan hidung, yang menyerupai kupu-kupu, sehingga disebut butterfly rush. Berikut ini adalah beberapa gejala lupus yang umum muncul:

  • Nyeri sendi dan bengkak (artritis)
  • Persendian kaku di pagi hari
  • Demam
  • Kelelahan
  • Ruam yang melebar di area hidung dan pipi yang menyerupai kupu-kupu
  • Ruam bersisik, berbentuk bulat yang dapat muncul di bagian tubuh mana pun
  • Ruam kulit dan semakin memburuk akibat paparan sinar matahari
  • Rambut rontok
  • Muncul luka yang biasanya tidak terasa sakit di area hidung dan mulut
  • Perubahan warna jari tangan dan kaki menjadi biru keunguan, putih, atau merah saat dingin atau stres (sindrom Raynaud’s)
  • Pembengkakan kelenjar
  • Pembengkakan kaki atau sekitar mata
  • Nyeri dada saat bernapas atau berbaring
  • Sakit kepala, pusing, linglung, atau kejang
  • Sakit perut

“Pada awalnya, Anda mungkin hanya merasakan beberapa gejala. Seiring waktu, sangat mungkin untuk Anda mengalami beberapa gejala sekaligus yang sifatnya kambuhan.Dengan pengobatan yang tepat, gejala ini bisa dikendalikan agar lebih jarang muncul,” tuturnya.

 Faktor risiko adalah hal-hal yang menyebabkan peluang seseorang mengalami lupus menjadi lebih besar. Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya:

Jenis kelamin. Walau dapat menyerang siapa saja, lupus lebih berisiko dialami oleh perempuan. Diketahui, sekitar lebih dari 80% kasus SLE ditemukan pada perempuan.

Usia
Orang usia berapa pun bisa terkena lupus, mulai dari bayi baru lahir sampai lansia. Meski begitu, sekitar 80% kasus lupus ditemukan pada orang usia 15-45 tahun.

Ras
Beberapa ras lebih berisiko mengalami lupus dibandingkan ras lainnya, seperti orang kulit hitam, Asia, Hispanik (Spanyol), dan Amerika.

Keturunan
Orang yang memiliki orang tua dengan lupus lebih berisiko mengalami lupus.

Diagnosis lupus

Sering kali, lupus sulit didiagnosa karena berbagai gejala yang muncul dan mirip dengan penyakit lain. Jadi, pemeriksaan yang dokter lakukan pada tahap awal mungkin berguna untuk mengeliminasi kemungkinan penyakit lain, selain lupus.

Pada mulanya, dokter akan melakukan tanya jawab riwayat kesehatan Anda terlebih dulu, seperti penyakit apa yang pernah dialami sampai riwayat penyakit lupus dalam keluarga. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik terhadap gejala-gejala yang dapat dilihat.

Setelahnya, dokter dapat meminta melakukan tes laboratorium, seperti:

  • Antinuclear antibodies (ANA), merupakan tes darah untuk melihat sensitivitas lupus. Hampir semua orang yang terserang lupus memiliki hasil tes ANA positif. Namun, hasil tes positif belum pasti berarti Anda memiliki lupus.
  • Antibodi antifosfolipid, anti-smith, dan anti-double-strand DNA antibodies, yang biasanya diminta dokter saat hasil tes ANA positif untuk memastikan diagnosis lupus.
  • Pemeriksaan darah lengkap, untuk melihat jumlah trombosit, sel darah merah, dan sel darah putih. Rendahnya ketiga komponen darah tersebut bisa menjadi pertanda lupus.
  • Panel metabolik untuk mengecek fungsi ginjal.
  • Pemeriksaan urin untuk melihat kadar protein di dalamnya.
  • Biopsi kulit atau ginjal saat hasil laboratorium mengindikasikan adanya abnormalitas.

Bisakah lupus disembuhkan?

“Lupus adalah penyakit kronis yang, sayangnya, hingga saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya. Namun, walaupun lupus tidak bisa sembuh total, pengobatan yang ada dapat membantu mengendalikan gejalanya dan meningkatkan kualitas hidup pasien secara signifikan. Diharapkan pengobatan ini bisa membawa lupus pada tahap remisi, yaitu saat gejala tidak muncul dalam waktu lama,” ujarnya.

Pengelolaan gejala pasien lupus

Tujuan utama pengobatan lupus adalah meminimalisir kerusakan organ dan meredakan gejalanya sehingga kualitas hidup pasien dapat meningkat. Perawatan yang diberikan dokter, antara lain:

  • Pemberian obat-obatan imunosupresan, untuk menekan sistem imun tubuh agar tidak bekerja terlalh aktif, seperti kortikosteroid, hidroksiklorokuin, metotreksat dan jenis imunosupresan lainnya
  • Mengatur pola hidup yang sehat. Makan makanan yang bergizi sehat seimbang. Olahraga rutin sesuai dengan kemampuan penyintas lupus, istirahat yang cukup. Mengingat obat-obatan yang diberikan hanya bisa didapatkan dengan resep dokter, pastikan Anda selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat.

“Jika anda mengalami berbagai gejala di atas, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis yang tepat. Masalah lupus biasanya berhubungan dengan bidang alergi imunologi karena berhubungan dengan autoimun,” bebernya .

Saat ini, Eka Hospital telah memiliki klinik ALIVE, yang berfokus pada penanganan masalah alergi dan imunologi. Layanan Allergy Immunology Autoimmune & Vaccine Clinic (ALIVE) dipimpin oleh Prof.DR.dr. Iris Rengganis, Sp.PD, K-AI, lengkap dengan tim yang ahli di bidangnya masing-masing.

Allergy Immunology Autoimmune & Vaccine Clinic (ALIVE) dilengkapi berbagai fasilitas dan alat medis, termasuk untuk pemeriksaan penunjang laboratorium dengan panel pemeriksaan autoimun untuk tes ANA IF, ANA Profile, Anti-dsDNA, C3, C4, Autoimmune Liver Disease (ALD), Autoimun Diabetes, Vasculitis, Thyroid Autoimmune serta sejumlah pemeriksaan alergi lainnya (red).

 

 

Narsum   : Eka Hospital Bekasi

Editor      : Aisyahra Mulyawati

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *