JAKARTA (klikinews.com) – Perusahaan infrastruktur yang berbasis di negara Brunei Darussalam secara resmi telah mengumumkan proposal pembangunan kereta api berkecepatan tinggi pertama di Pulau Borneo Kalimantan, khsususnya melintas di Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia.
Menteri Komunikasi dan Transportasi Brunei Darusallam, Shamhary Mustapha mengungkapkan, Brunergy Utama, perusahaan minyak dan gas yang kini beralih ke infrastruktur, meluncurkan proyek tersebut pada akhir Maret 2024.
“Rencana Pembangunan transportasi ini akan menghubungkan negara Brunei dengan dua negara tetangga, Malaysia dan Indonesia, termasuk Ibu Kota Negara,” kepada media Asia, Senin (22/04/24).
Perusahaan mengumumkan, Kereta Api Trans-Borneo akan membentang sepanjang 1.620 kilometer dari sisi barat ke sisi timur Kalimantan, melintasi tiga negara Asia Tenggara. Tahap pertama disebut menghubungkan Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, dengan Kuching dan Kota Kinabalu, ibu kota negara bagian Sarawak dan Sabah di Malaysia, serta Distrik Tutong di Brunei darusalam dan wilayah barat di pantai utara Kalimantan.
“Tahap kedua berlanjut ke arah selatan, menghubungkan Tutong dengan Provinsi Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur, termasuk Samarinda dan Balikpapan. Dan nantinya akan menjadi ibu kota Indonesia di masa depan layanan transportasi yang efisien pemerataan ekonomi di Ibu Kota Negara,Kalimantan ” jelasnya
Masih menurut rencana Brunergy Utama, akan ada empat terminal yang berfungsi sebagai jaringan utama kereta berkecepatan tinggi bersama dengan total 24 stasiun. “Sesuai usulan, kereta api cepat tersebut direncanakan melaju dengan kecepatan hingga 350 kilometer per jam, dengan perkiraan biaya sekitar 70 miliar dollar AS,” tuturnya.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan,Risal Wasal blak- blakan saat di wawancarai media di Gedung DPR RI Jakarta, proyek tersebut baru berupa usulan. Kendati demikian, Pemerintah Indonesia hingga saat ini belum berkomitmen terhadap keputusan apa pun terhadap usulan Perusahaan Brunei Darusallam untuk kehadiran Kreta cepat di lintas negara.
“Bahkan, perusahaan Brunergy Utama belum membuka pembicaraan dengan pemerintah Indonesia. Belum ada omongan ke kita. Tahu-tahu mereka ngeluarin saja ke Kalimantan. Trasenya belum tahu, belum ada omongan sedikit pun,” ujarnya di Gedung DPR RI di Jakarta,
Lebih lanjut kata Risal, proyek Kereta Api Trans-Borneo memungkinkan untuk direalisasikan asal ada investor yang bersedia membiayai pembangunannya. Pasalnya, belum ada kajian mengenai proyek ini, baik dari sisi perkiraan permintaan (forecast demand), trase, hingga studi kelayakan (feasibility study/FS).
“Jika memungkinkan, ya mungkin aja ya, karena kedepannya bisa berdampak baik untuk pemerataan ekonomi di IKN dan warga Kalimantan lainnya. tinggal siapa yang membiayai proyek ini. Dan Itu masih cek ombak saja oleh Perusahaan Brunei,” jelas Risal (red).
Editor : Aisyahra Mulyawati +6281289982758