DEMAK, JATENG,Klikinews.com – Dalam upaya meningkatkan kesadaran akan dampak Bullying di lingkungan pesantren, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Diponegoro (Undip) mengadakan program psikoedukasi tentang bullying pada remaja di Pesantren At-Tamriyah, Desa Tugu, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah Pada Minggu (20/10/2024).
Program ini diikuti oleh 24 santri putra dan putri dan bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai bullying, yang seringkali dianggap sepele di kalangan remaja pesantren. Materi psikoedukasi ini dibawakan oleh Amabila Novira Afirda Zahrani yang merupakan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.
Di lingkungan pesantren, perilaku yang sebenarnya masuk dalam kategoriperundungan sering dianggap sebagai candaan atau bagian dari keseharian, tanpa disadari dapat berdampak buruk secara psikologis bagi korban. “Bullying kerap dianggap biasa saja di kalangan remaja, padahal dampaknya bisa merusak kepercayaan diri dan kesehatan mental korban,” ujar Amabila Novira Afirda Zahrani saat di konfirmasi klikinews.com, Jumat (15/11/2024).
Ditambah lagi, kata Amabila, kondisi ini diperburuk dengan kurangnya pemahaman mengenai Penindasan dunia maya (Cyberbullying) yang semakin meningkat seiring dengan penggunaan media sosial di kalangan remaja pesantren, meskipun dalam kontrol terbatas.
Melalui program Psikoedukasi ini, para peserta mendapatkan pemahaman dasar mengenai berbagai jenis bullying, mulai dari verbal, fisik, hingga cyberbullying. Program dimulai dengan pembagian snack box dan leaflet edukatif, yang berisi informasi mengenai dampak buruk dari bullying dan pentingnya menciptakan lingkungan yang bebas dari perundungan.
“Selanjutnya, materi disajikan dalam bentuk PowerPoint yang menarik dan mudah dipahami, di mana para peserta diajak untuk menyadari bahwa perundungan bukanlah hal sepele. Mereka juga dibekali dengan cara mengenali dan menghentikan perilaku bullying di sekitar mereka,” ungkap Amabila,
Sesi tanya jawab yang interaktif memberikan kesempatan kepada para santri untuk aktif bertanya. Program ini diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama, sebagai kenang-kenangan dari acara yang penuh makna tersebut.
“Diharapkan, dengan adanya psikoedukasi ini, para remaja di pesantren dapat lebih peka terhadap perundungan yang terjadi di sekitar mereka, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Lebih dari itu, mereka diharapkan dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan pesantren yang lebih aman dan nyaman, bebas dari perundungan,” tutur Amabila (red).