DEMAK, JATENG,Klikinews.com – Tim Tematik Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponogoro (Undip) Semarang mengadakan program pelatihan Pos Satelit Kesehatan (POSLITKES) di Balai Desa Tugu, yang dihadiri oleh perwakilan RT di Desa Tugu,Pperangkat Desa, dan Bidan Desa pada hari Minggu (12/09/2024).
Selain itu, program Pos Kesehatan Pesantren (POSKESTREN) juga diadakan di Pondok Pesantren At-Tamriyyah yang terletak di Desa Tugu,Demak, Jawa Tengah. Kedua program ini bertujuan untuk memperkuat layanan kesehatan dengan menjangkau masyarakat secara lebih dekat, baik melalui POSLITKES di tingkat RT maupun melalui POSKESTREN di lingkungan pesantren.
“Poslikes dan Poskestren ini diharapkan dapat memperluas akses layanan kesehatan dengan mendekatkan fasilitas kesehatan ke tingkat masyarakat yang lebih kecil, seperti RT dan pesantren,” ucap Fathimah Asri Fadhilah Aulia, SKM saat di konfirmasi media klikinews, Jumat ( 15/11/2024).
Program kerjan ini dibawah bimbingan Prof. dr. Dr. Sri Achadi Nugraheni, M. Kes yang bertujuan untuk melengkapi dan mendukung kegiatan Posyandu yang sudah ada, bukan menggantikannya. Dengan keberadaan POSLITKES di setiap RT dan POSKESTREN di Pesantren, masyarakat akan lebih mudah mengakses pemeriksaan kesehatan secara rutin, meningkatkan deteksi dini masalah kesehatan, serta memperkuat pencatatan data kesehatan yang lebih akurat.
Pelatihan Poslitkes dibuka dengan penjelasan mengenai konsep dan mekanisme kerja Poslitkes oleh Fathimah Asri Fadhilah Aulia, SKM. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami pentingnya POSLITKES sebagai bagian dari sistem layanan kesehatan komunitas yang dapat mengakses masyarakat lebih mudah.
“Pelatihan Poskestrem juga dilaksanakan dengan tujuan untuk melibatkan santri dan pengurus pesantren dalam mendukung pemeriksaan kesehatan secara mandiri di lingkungan pesantren,”tuturnya
Pada kedua kegiatan tersebut, Shafa Alya Kamila memberikan pelatihan tentang cara menggunakan alat antropometri, seperti infantometer untuk mengukur panjang badan bayi, microtoice untuk mengukur tinggi badan anak, timbangan digital untuk berat badan, dan pita LiLA untuk mengukur Lingkar Lengan Atas.
“Semua alat ini bertujuan untuk mempermudah pengukuran status Kesehatan anak-anak dan remaja. Setelah penjelasan materi, peserta diajak untuk melakukan praktik langsung menggunakan alat-alat tersebut,” ungkap Shafa Alya Kamila,
Setiap perwakilan RT dan pesantren juga diberikan satu set alat antropometri, catana (catatan sederhana untuk mencatat hasil pengukuran), poster-poster edukatif, serta beberapa booklet yang dapat digunakan sebagai referensi untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang pentingnya pemantauan kesehatan secara rutin.
Papan nama juga diberikan di setiap POSLITKES dan POSKESTREN agar masyarakat lebih mudah mengetahui keberadaan fasilitas kesehatan ini. Data yang diperoleh dari POSLITKES dan POSKESTREN akan dicatat dalam catana dan dilaporkan setiap satu bulan sekali ke bidan desa untuk memvalidasi data kesehatan yang lebih komprehensif.
Proses pelaporan ini bertujuan untuk menyelaraskan dan melengkapi data yang diperoleh dari posyandu agar lebih akurat dalam pemantauan status Kesehatan masyarakat. Dengan adanya POSLITKES dan POSKESTREN, diharapkan masyarakat di Desa Tugu, baik itu di tingkat RT maupun di pesantren, dapat memperoleh pelayanan Kesehatan yang lebih mudah diakses dan lebih dekat dengan tempat tinggal atau tempat mereka beraktivitas.
“Partisipasi aktif perangkat desa, para kader RT, dan pengurus pesantren sangat diharapkan agar layanan ini bisa terus berjalan dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi kesehatan masyarakat di Desa Tugu dan sekitarnya,” jelasnya (red).