KOTA BEKASI,Klikinews.com – Kota Bekasi saat ini telah darurat kekurangan guru. Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Pendidikan Kota Bekasi sebelumnya telah melakukan MoU dengan perguruan tinggi negeri Jakarta, dengan Perjanjian Kerjasama (PKS) yang meliputi Program Magang Mahasiswa. Hal ini untuk memenuhi kekurangan guru yang ada di Kota Bekasi baik jenjang Taman Kanak-Kanak (TK),Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Seblumnya, Plt.Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi Ahmad Yani mengatakan, program ini dilakukan karena saat ini Kota Bekasi mengalami banyak kekurangan guru, sedangkan untuk pengangkatan guru honorer sudah tidak dapat dilakukan mengingat regulasi yang sudah melarang pengangkatan tenaga honorer (UU no 20 tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara).
“Oleh karena itu,Pemkot Bekasi membuka peluang kerjasama dengan perguruan tinggi yang mau bergabung untuk dapat melibatkan mahasiswanya membantu mengisi kekosongan yang ada sebagai bagian dari pengabdian masyarakat dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” jelasnya
Ditempat terpisah, Pengurus Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Pusat sekaligus Ketua Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Bekasi Raya,Wawan Hermawansyah angkat bicara,sangat disayangkan, Kerjasama antara ADI Bekasi Raya dengan Pemkot Bekasi saat ini tidak berjalan baik.
“Terkait Pemkot Bekasi bekerjasama dengan perguruan tinggi dari Jakarta, itu haknya pihak Pemkot Bekasi untuk MoU dengan perguruan tinggi manapun, dan melibatkan peran mahasiswa Magang menjadi guru untuk mengisi kekosongan. Namun sangat disayangkan, di Kota Bekasi ini banyak Dosen – Dosen yang sangat kompeten di bidang Keguruan, tapi tidak dilibatkan oleh Pemkot Bekasi lagi,” ungkap Wawan Hermawansyah saat di konfirmasi media klikinews.com, Senin (28/04/2025) di Politeknik Bhakti Kartini, Rawalmbu, Kota Bekasi.
Padahal tahun -tahun sbeelumnya, kata Wawan, Harmonisasi dosen perguruan tinggan dengan Pemerintah Kota Bekasi ,tidak ujug ujug. Perjalanan Kerjasama antara Adi Bekasi raya dan Pemkot Bekasi dari tahun 2015.
“Focus kami saat itu, bagaimana dosen-dosen yang ada di Kota Bekasi, itu saling berinteraksi, membantu program-program strategis Pemkot Bekasi Dan saat itu sudah berjalan dengan baik,” jelasnya,
Puncaknya adalah, kata Wawan lagi, Kota Bekasi mengawali saat dipimpin oleh Walikota Bekasi lama Rahmat Effendi memberikan bantuan pada mahasiswa kurang mampu. Pada tahun 2021 sudah terdampak wabah Covid 19, program tersebut masih berjalan sampai tahun 2024.
“Yang saya ingin sampaikan kepada Bapak Walikota Bekasi dan Wakil Walikota Bekasi yang baru ini, bahwa Perguruan tinggi itu bukan tanggung jawabnya Pemkot Bekasi, Pemkot Bekasi itu tanggung jawabnya sekolah Taman kanak-kanak, SD,dan SMP. Karena SMA/SMK saat ini sudah di urus Provinsi Jawa barat, Perguruan Tinggi oleh Kemendikti.
Tapi kenapa Pemkot Bekasi tahun sbeelumnya terbuka membantu mahasiswa/wi asli penduduk Kota Bekasi untuk dibantu ? Inikan ada harmonisasi dan saling percaya antara Pemkot Bekasi dengan ADI Bekasi Raya yang dibangun. Ada tiga komponen yang mengikat itu, pertama adalah : Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI) wilayah V.A, kedua : Asossiasi Dosen Indonesia (ADI) Bekasi Raya, ketida : Forum Dosen Guru dan Masyarakat (Fordorum) terus berjalan dan berdampingan, sehingga program pemerintah yang bersinergi .
“Waktu itu kami sampaikan satu statmen dari Provinsi Jawa Barat yang saat itu di pimpin Ahmad Heriawan, indikator ,sebuah Kota atau wilayah itu akan maju, perguruan tingginya akan maju,”jelasnya lagi,
Yang kedua : perguruan tinggi itu menjadikan garda terdepan dalam menghilirasi program dari Pemkot Bekasi. Misalnya untuk pembuatan Peraturan Daerah (Perda), atuaran Walikota, yang diinisiasi oleh excecutive atau legeslatif yaitu DPRD dan itu harus ada dikeluarkan naskah dari unsur Akademik.
“Siapa akademik itu ? ya adalah Perguruan tinggi. Maka dari itu, harus di analisis. Sebenarnya hal ini sudah terbentuk satu model dan menjadi Rol Model Se-Nasional. Saya sampaikan pada beberapa pimpinan Perguruan tinggi di Bekasi, sebagai kapasistas pengurus Asosiasi Dosen Indonesia pusat dan tim verifikasi bantuan hibah dari Pemkot Bekasi,
“Kami kan dapat bantuan dari Pemkot Bekasi sudah beberapa kali, maka dari itu ,sudah saatnya waktu, kita memberikan Feedback kepada Pemkot Bekasi untuk membantu menterjemahkan Visi dan Misinya mempercepat program strategis Pemkot Bekasi yang tidak mungkin bisa diwujudkan secara mandiri oleh Pemkot Bekasi karena keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan keterbatasan dana.
Keterbatasan kekurangan SDM Guru di Kota Bekasi itu seyoganya diisi oleh pihak Akademisi (Dosen-Dosen) yang ada di wilayah Bekasi Raya. itu yang sering saya sampaikan, “Itulah mestinya program Strategis Pemkot Bekasi yang sudah ter-Cover satu konsep yang dinamakan dengan Model Pemdahelik yang sudah dibentuk oleh inisiasi oleh APTISI,” tutup Wawan Herwansyah (red).