JAKARTA,Klikinews.com – Bagi generasi 1980-an, siapa yang tak kenal Yessy Gusman? Wajahnya seringkali menghiasi layar lebar dan layar kaca. Melalui karyanya, Yessy Gusman menjadi idola remaja di era 80-an. Ia dikenal luas lewat film-film romantis seperti Puspa Indah Taman Hati. Namun, sebagaimana musim yang berganti, dunia hiburan pun berubah. Ketika sorot lampu tak lagi menyorot panggungnya, Yessy tidak menghilang, ia justru mengalami metamorfosis yang begitu menyentuh.
Perjalanan karier Yessy tidak berhenti saat ketenarannya meredup. Justru dari sanalah ia memulai babak baru yang lebih mendalam dan penuh makna. Bak kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu, Yessy menjalani proses metamorfosis yang menginspirasi. Ia memilih jalan baru yang tak lagi gemerlap, namun penuh makna. Dari panggung hiburan, ia beralih ke panggilan jiwa yang lebih dalam: dunia pendidikan dan sosial. Transformasi ini menjadi bukti nyata bahwa hidup bukan hanya soal menjadi sorotan, tetapi tentang memberi arti bagi sesama. Melalui yayasan yang ia dirikan, Yessy mendampingi anak-anak kurang mampu agar tetap bisa belajar dan tumbuh dalam ruang yang hangat dan penuh kasih.
“Selama kita sehat dan punya semangat untuk belajar, tidak ada batasan usia untuk tetap produktif. Alam semesta ini luas dan penuh pelajaran yang bisa membuat kita terus semangat menjalani hidup,” ujar Yessy kepada media, Selasa (8/7/2025) di Jakarta,
Lebih lanjut kata Yessy, menyiratkan semangat hidup yang tak lekang oleh waktu. Peralihan ini bukan sekadar pelarian dari popularitas masa lalu, melainkan bentuk komitmen yang mendalam. Di tengah keterbatasan, Yessy Gusman hadir sebagai sosok yang menerangi masa depan dengan pendidikan, memeluk luka batin dengan empati, dan menunjukkan bahwa cinta tidak selalu harus dipertontonkan.
“Usia senja bukan penghalang untuk berkarya, justru menjadi awal dari pengabdian yang lebih tulus dan bermakna. Investasi kasih sayang dan pendidikan pada keluarga itu penting, dan sebaiknya dimulai sejak dini, bukan ketika kita sudah menua dan baru mencari perhatian anak-anak. Keluarga yang saling menyayangi akan jadi sumber kebahagiaan terbesar dalam hidup,” tutur Yessy, menekankan pentingnya nilai kekeluargaan sejak awal kehidupan.
Semangat inilah yang turut dihidupkan oleh generasi muda masa kini. Sebagai bagian dari Generasi Z, mahasiswa LSPR Bekasi merasa terpanggil untuk menggaungkan nilai-nilai kebermanfaatan di usia lanjut melalui program SAPA Lansia: Lansia Berdaya, Pondok Bambu Bahagia. Acara ini akan diselenggarakan pada 14 Juli 2025, sebagai bentuk kepedulian terhadap para lansia yang kerap terpinggirkan di tengah hiruk-pikuk zaman.
Melalui acara ini, mahasiswa tidak hanya mendukung para lansia untuk tetap aktif dan merasa dihargai, tetapi juga belajar memaknai empati secara langsung. Tujuan program ini adalah menciptakan ruang yang aman dan menyenangkan bagi lansia, sekaligus membentuk generasi muda yang sadar akan pentingnya menjaga pola hidup sehat, memperkuat koneksi antar generasi, dan tumbuh sebagai pribadi yang peduli terhadap sesama.
Kisah metamorfosis Yessy Gusman dan inisiatif SAPA Lansia menjadi pengingat bahwa setiap fase kehidupan memiliki maknanya masing-masing. Di balik ketenaran masa lalu maupun kesederhanaan masa kini, selalu ada ruang untuk berbagi.
“Setiap tahapan hidup membawa kebahagiaannya masing-masing, masa kecil, remaja, menjadi ibu, hingga menjadi nenek. Semua itu bermakna. Menutup kisahnya dengan refleksi yang penuh kehangatan. Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang terus hidup bukanlah popularitas, melainkan rasa berguna bagi orang lain,” tutup Yessy (red).