KOTA BEKASI,Klikinews.com – Tri Ardhianto menilai persoalan balap liar di kalangan anak-anak dan remaja perlu disikapi dengan langkah yang komprehensif. Menurutnya, penyadaran dan pengawasan harus berjalan beriringan agar kebiasaan negatif tersebut bisa ditekan.
Ia menjelaskan, penyadaran penting dilakukan untuk membuka pemahaman anak-anak mengenai bahaya balap liar di jalan raya. Tanpa edukasi, minat yang besar pada dunia balap justru berisiko membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Selain itu, pengawasan juga tidak boleh bersifat sesaat. Tri menekankan perlunya pengawasan berkelanjutan sehingga anak-anak benar-benar terarah dan tidak kembali melakukan aksi berbahaya di jalanan umum.
Namun, edukasi dan pengawasan saja dianggap tidak cukup. Tri menilai, anak-anak yang memang memiliki minat di dunia balap harus diberi ruang atau fasilitas yang aman untuk menyalurkan hobi mereka.
Saat ini, salah satu lintasan yang tersedia berada di kawasan Vida dengan panjang sekitar 500 meter. Meski masih terbatas, lintasan ini menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan oleh komunitas maupun anak-anak muda yang ingin menyalurkan hobi balapnya.
Tri menyebut, sedang diupayakan penambahan panjang lintasan tersebut dengan dukungan dari pemerintah. Peningkatan infrastruktur diharapkan mampu membuat lintasan lebih memadai dan aman digunakan.
Selain itu, ada pula potensi pemanfaatan lahan di kawasan Arapanidah Kabupaten. Lahan tersebut dinilai bisa dijadikan lintasan sementara, sehingga tersedia lebih banyak pilihan untuk menampung kegiatan balap anak muda.
Menurut Tri, yang dibutuhkan bukan hanya pembangunan sirkuit resmi. Lintasan sederhana yang bisa diakses secara aman oleh anak-anak justru lebih penting untuk disediakan dalam jangka pendek.
Ia menegaskan bahwa langkah ini bukan semata-mata soal infrastruktur, tetapi juga bentuk dukungan terhadap anak muda agar memiliki wadah positif. Dengan begitu, hobi mereka dapat berkembang tanpa menimbulkan masalah di jalan raya.
Tri juga menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, komunitas otomotif, dan masyarakat dalam mewujudkan fasilitas balap tersebut. Kolaborasi dianggap menjadi kunci untuk menghadirkan solusi yang cepat dan tepat.
Dengan kombinasi edukasi, pengawasan, dan penyediaan fasilitas, Tri optimistis minat balap anak-anak dapat tersalurkan dengan baik. Ia berharap langkah ini sekaligus bisa mengurangi praktik balap liar di jalanan dan menumbuhkan bakat baru di dunia otomotif (red/ani).